“SHABBAT TANDA PERJANJIAN TUHAN BAGI UMAT-NYA”
"Jadi,
masih ditinggalkan suatu Sabat perhentian bagi umat Elohim.Sebab, siapa yang
masuk kedalam perhentian-Nya, maka dia telah berhenti dari pekerjaan-pekerjaannya,
sama seperti Elohim dari pekerjaan-pekerjaan-Nya.Oleh karena itu, biarlah kita
bergegas untuk masuk kedalam perhentian itu, supaya jangan ada seorang pun yang
jatuh ke dalam contoh yang sama dari ketidaktaatan" ( Ibrani 4:9-11)
Dalam Imamat
23, YaHWeH, Elohim menetapkan 8 hari raya untuk dirayakan oleh umatNya.
Yang pertama
ditetapkan adalah hari raya mingguan yang disebut Shabbat, kemudian 7 hari raya
yang dirayakan setiap tahun sekali, yaitu Pesakh, Roti Tak Beragi, Buah Sulung,
Shavuot(Pentakosta), Yom Truah/Rosh Hashana (Sangkakala),
Yom Kippur
(Pendamaian) dan Sukkot (Pondok Daun/Tabernakel). Dalam konteks alkitabiah,
Shabbat dirayakan untuk mengingatkan bahwa Tuhan berhenti pada hari ketujuh
dalam minggu penciptaan alam semesta; dan juga untuk mengingatkan penebusan
Israel dari perbudakan di Mesir (Bdk Ulangan 5:15).
Ini berarti Shabbat tidak saja memiliki dimensi
penciptaan jasmaniah tetapi juga memiliki dimensi penebusan rohaniah.
Keluarnya
Israel dari perbudakan Mesir melalui korban darah anak domba Pesakh jelas
merupakan suatu gambaran profetik yang menunjuk penebusan bangsa-bangsa dari
perbudakan dosa oleh Mesias Yeshua.
Tidaklah tepat
bila dikatakan Shabbat hanya berkaitan dengan penciptaan fisik yang kemudian
jatuh dalam perbudakan dosa; karena Tuhan sendiri mengaitkan Shabbat dengan
penebusan dari perbudakan dosa.
Shabbat
berasal dari minggu penciptaan, setelah bekerja 6 hari, YaHWeH, Elohim berhenti
bekerja pada hari ke-7. Alkitab mengatakan Tuhan sendiri yang pertama
menjalankan shabat (Bdk. Kejadian 2:3 Shin-Bet-Tav), berhenti dari segala
pekerjaanNya.
Shabbat
dikenal sebelum Torah diturunkan di Sinai kepada Moshe.
“Lalu Elohim memberkati hari ke tujuh itu dan
menguduskannya, karena di dalamnya Dia telah beristirahat dari segala
pekerjaan-Nya yang telah Elohim ciptakan untuk menjadikannya”( Kejadian 2:3 )
Sama seperti
Shabbat, persepuluhan juga telah dikenal pada sebelum Torah diturunkan, hanya
bedanya, persepuluhan dijalankan terus sedang Shabbat dihentikan. Tidak jelas
apa kriteria yang digunakan oleh agama Kristen untuk membuat perbedaan ini.
Pola adanya
satu hari perhentian kemudian diterapkan kepada kehidupan bangsa Israel. Bangsa
ini baru dibebaskan dari perbudakan selama 430 tahun di Mesir. Mereka bekerja 7
hari dalam seminggu, tidak ada hari istirahat, tidak ada perhentian. Itulah
kehidupan budak.
Setelah
merdeka oleh darah domba yang dilaburkan pada ambang pintu pada hari raya Pesakh,
Israel diminta mengubah cara hidup mereka, bekerja 6 hari dan berhenti pada
hari ketujuh yaitu Shabbat. Dengan demikian Shabbat bukan saja mengandung
dimensi penciptaan tetapi juga dimensi penebusan! (Bdk Ulangan 5:15).
Pada hari
itulah mereka menikmati kemerdekaan mereka dengan menikmati perhentian, baik
batiniah maupun jasmaniah.
Ada empat hal yang kita lihat
pada Shabbat:
1.Shabbat adalah Tanda Perjanjian
Shabbat sudah
ada sejak minggu penciptaan, tetapi itu baru disebut sebagai tanda perjanjian
setelah Perjanjian Sinai (Keluaran 31:13). Di Sinai Adonai Elohim memberikan
Torah (=Pengajaran) kepada Israel.
Firman Tuhan berkata :
“Dan Aku juga memberikan kepada mereka hari-hari
Sabat-Ku menjadi sebuah tanda antara Aku dengan mereka,sehingga mereka dapat
mengetahui bahwa Akulah YaHWeH, yang menguduskan mereka”( Yehezkiel 20:12 )
Torah adalah bahasa Ibrani yang memiliki arti : petunjuk,instruksi,hukum,pengajaran.
Torah adalah pengajaran yang berisi prinsip-prinsip hidup
kudus bagi Tuhan.Torah adalah Firman Tuhan.
Torah yang
diwakili oleh 2 log batu 10 Firman itu juga merupakan Perjanjian Nikah (Ibr
ketubah) antara Tuhan dengan umatNya Israel. Sama seperti perjanjian nikah
suami dan isteri, suami satu-satunya dan isteri satu-satunya, demikian Adonai
Elohim adalah satu-satunya Tuhan bagi Israel; dan Israel adalah umat Tuhan yang
dikuduskan dari umat lainnya.
Agar dapat
terus diingat, Tuhan memberikan tanda satu hari setiap minggu yang disebut hari
Shabbat. Sebagai tanda perjanjian, sejarah menunjukkan bahwa adalah Shabbat
yang memegang bangsa Yahudi dan bukan bangsa Yahudi yang memegang Sabbat.
Sinagog bisa
dihancurkan, namun selama Shabbat tetap ada dalam keluarga Yahudi, bangsa ini
tidak akan pernah musnah.
2.Shabbat merupakan Gambaran Messias
Sejak
penciptaan Adonai Elohim telah memakai Sabbat sebagai waktu perhentian, tidak
ada pekerjaan apapun yang dapat dilakukan. Di sini ada rahasia tentang Mesias.
Yeshua
mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Junjungan atas hari Sabbat (Bdk Matius
12:8). Ia juga berkata, Datanglah kepada-Ku, semua orang yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi perhentian kepadamu (Bdk Matius 11:28).
Shabbat
merupakan gambaran perhentian kita dalam pekerjaan Yeshua yang telah selesai.
Orang percaya telah berhenti dari usaha diri sendiri (self effort) yaitu enam
hari bekerja untuk merebut hati Tuhan , meninggalkan semua itu dengan memasuki
perhentian Mesias.
3.Dirayakan setiap pekan dalam kebebasan
Shabbat
dirayakan setiap hari ketujuh (Bdk Imamat 23:1-3), mulai Jumat pk 18.00 sampai
Sabtu pk 18.00. Setiap minggu kita diingatkan bahwa Tuhan adalah Pencipta
langit dan bumi dan Ia memberi teladan untuk berhenti satu hari dari
pekerjaanNya.
Ia juga
Penebus kita dari perbudakan. Bahwa kitapun memerlukan istirahat dan
kemerdekaan rohani maupun jasmani pada hari Sabat.
Banyak orang
menyangka pada hari sabat orang tidak boleh melakukan apapun, hanya termenung
yang sungguh membosankan. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang melakukan
pekerjaan pada hari Shabbat akan dihukum mati.
Ini mengerikan
bagi orang bukan Ibrani, seakan-akan tidak boleh ada pekerjaan apapun bila
tidak mau dihukum mati. Tetapi itu adalah anggapan orang yang hanya mendengar
dari orang lain tanpa menyelidikinya sendiri.
Perkataan
Ibrani yang dipakai untuk pekerjaan adalah “mlakah” yang artinya pekerjaan rutin untuk mencari nafkah. Istilah
lain adalah avodah yang berarti kegiatan ibadah atau pelayanan. Firman Tuhan
tidak melarang avodah,ibadah atau pelayanan tetapi melarang melakah, bekerja
rutin mengejar nafkah.
Yeshua memberi
tafsir yang tepat terhadap Torah, memetik tangkai gandum seperti yang dilakukan
murid-muridNya dan menyembuhkan orang sakit dengan Firman yang dilakukannya
bukanlah pekerjaan yang termasuk kategori melakah melainkan "pikuach
nefesh" (memelihara kehidupan)
4.Berkat dan Kemenangan dari Atas
Israel
mendapat berkat manna dua kali lipat pada hari keenam (Bdk Kel 16:22) untuk
memelihara Sabat, kita juga akan mendapat berkat ganda saat kita mengindahkan
perintah Adonai Elohim.
Pada hari
Shabbat kita mengisi hati dan pikiran kita dengan Firman dan Perintah Tuhan,
dia adalah Junjungan hari Shabbat. Ketika melakukan perintah sabat, kita
melayani Tuhan, kita memegang perjanjian.
Itulah yang
menyebabkan hati kita dipenuhi sukacita. Jika kita melakukannya dengan sikap
yang mengindahkan ketetapanNya sesuai dengan rancangannya, tidak mengikuti
keinginan kita sendiri, Ia akan membawa kita melampaui puncak-puncak tantangan
dalam kendaraan kemenanganNya (Bdk.Yesaya 58:13-14).
Shabbat juga
dirayakan oleh orang asing yaitu bangsa-bangsa bukan Israel yang hidup bersama
mereka (Bdk Ulangan 5:14).
Dengan
demikian, Shabbat bukanlah monopoli bangsa Israel tetapi bagi siapa saja yang
menghargai baik penciptaan Tuhan maupun penebusanNya. Setelah bangsa-bangsa
menerima injil keselamatan yang diberitakan para rasul, Konsili di Yerusalem
menyepakati bahwa orang beriman kepada Yeshua HaMashiakh perlu mengikuti
pengajaran (Ibrani: Torah) yang diberikan di sinagog pada setiap hari Shabbat (Bdk.Kisah
Rasul 15:21).
Tetapi
bukankah kitab rasuli menunjukkan bahwa murid-murid berkumpul pada hari pertama
seperti yang dilakukan Paulus di Troas? (Bdk Kisah Rasul 20:7).
Agar tidak
tergelincir di sini, kita harus ingat bahwa sistem kalender yang digunakan oleh
penulis-penulis Kitab Suci bukanlah kalender Romawi (Julian-Gregorian) yang
menetapkan penggantian hari dimulai jam 24 atau 00, tetapi menggunakan kalender
Ibrani. Menurut perhitungan kalender Ibrani, hari Shabbat dimulai dari Jumat
jam 18 sampai Sabtu jam 18.
Dengan
demikian hari pertama (Minggu) dimulai dari Sabtu jam 18 setelah matahari
terbenam. Ini menunjukkan bahwa setelah Paulus dan orang percaya melakukan
Penutupan Shabbat (Ibr. Havdalah) mereka melanjutkan lagi dengan acara
persekutuan alias tamah-ramah untuk memecah roti yang tidak lain adalah makan
bersama (Bdk.Kisah Rasul 20:11). Memecah roti bukanlah perjamuan kudus seperti
yang disangka orang Kristen abad 21.
Acara tersebut
dilaksanakan pada hari Sabtu malam Minggu sesudah jam 18, yang menurut kalender
Ibrani sudah dihitung hari pertama minggu itu.
Sebagai hari
raya di lingkungan Ibrani, Shabbat merupakan hari istimewa.
Pada umumnya
dalam hari Shabbat ada tiga (3) acara pokok, yaitu Jamuan Petang Shabbat (Erev
Shabbat) sebagai pembukaan; Ibadah Shabbat pagi; dan Penutupan Shabbat
(Havdalah).
1.Jamuan Petang Shabbat (Erev Shabbat)
Jamuan ini
biasanya dilakukan di keluarga masing-masing, namun dapat juga dilakukan dalam
kelompok atau jemaat. Meja jamuan ditata dengan
rapih bagaikan
suatu pesta penting. Memang penting karena ini dilakukan untuk mentaati
perintah Adonai Elohim.
Jamuan Erev
Shabbat (petang hari) dibuka oleh ibu/isteri dengan menyalakan terang lilin
untuk mengingatkan Janji Tuhan bahwa Terang Dunia datang dari wanita.
Acara
selanjutnya dipimpin oleh ayah/suami sebagai imam keluarga. Suami akan memilih
1-2 lagu pujian kepada Tuhan. Setelah itu ia akan mengucapkan berkat anggur,
diikuti minum anggur oleh anggota keluarga.
Kemudian ia
mengucapkan berkat roti yang diikuti dengan makan roti oleh seluruh keluarga.
Berikutnya,
ayah mengucapkan berkat bagi anak laki-laki dan perempuan. Setelah itu, ayah
dan anak-anak memberi penghargaan kepada isteri dengan membaca Amsal 31:10-31
sambil berdiri sementara sang isteri tetap duduk. Selanjutnya seluruh keluarga
membaca Mazmur 23 "YaHWeH adalah Gembalaku."
Barulah
setelah itu makan malam disuguhkan setelah ayah mengucupkan berkat makanan.
Setelah makan, seluruh keluarga menyanyikan lagu-lagu pujian dan melakukan
tanya jawab mengenai pengajaran Tuhan.
Erev Shabbat
menunjukkan peran ayah sebagai imam keluarga yang memimpin keluarga mentaati
perintah Tuhan, memberkati anak-anak, menghargai isteri dan memimpin tanya
jawab hal rohani dengan anak-anak.
Isteri
mendukung ketaatan suami dengan menyiapkan meja hidangan dengan rapih dan
menarik sehingga anak-anak merasakan suasana pesta sukacita.
2.Ibadah Shabbat pagi
Ibadah Sabtu
pagi umumnya dilakukan secara formal bersama jemaat. Tatacara ibadah mengikuti
Siddur yaitu buku doa orang Yahudi. Tatacara dapat bervariasi, liturgi dapat
berbeda dari jemaat ke jemaat.
Beberapa unsur
yang sama adalah Shema Israel (Dengar Israel) dan V’ahavta, Pembacaan Mazmur,
Doa / Amidah, Pembacaan Torah, Haftarah (kitab Nabi-nabi) serta kitab Rasuli,
Kotbah dan Ringkasan Iman/Tefilat haTalmidim (Doa Bapa kami).
Jelas terlihat
bahwa liturgi yang dikenal dalam gereja Reform berasal dari Ibadah Shabbat di
sinagog.
3.Penutupan Shabbat (Havdalah)
Penutupan
Shabbat dapat dilakukan di rumah ataupun bersama jemaat saat matahari telah
terbenam.Bila dilakukan dalam keluarga, havdalahakan selesai dalam waktu 15
menit saja.
Dimulai dengan
pembacaan ayat-ayat dari kitab Yesayah, Mazmur dan Ester, havdalah melibatkan
pengucapan berkat atas anggur, atas rempah-rempah dan atas lilin. Anggur
menyatakan sukacita hari Sabbat, tanda perjanjian dengan Elohim.
Rempah-rempah
menunjuk pada keharuman Shabbat yang akan dibawa menggarami sepanjang minggu
berikutnya. Lilin khusus Havdalah yang merupakan jalinan dua lilin menunjuk
pada kesatuan yang didapat dalam Shabbat, antara Tuhan dengan umatNya dan
antara anggota-anggota keluarga. Ayat pertama yang dibaca yaitu Yesayah 12:2-3
menempatkan bangsa Israel untuk mengucapkan nama Yeshua dalam bentuk yeshuati
(keselamatanku) dan ha-yeshua (keselamatan itu).
Sebelum Yeshua
datang, melalui nabi Yesayah dan imam Ezra Tuhan telah menaruh Yeshua dalam
mulut bangsa pilihanNya.
Umat Kristen dapat
saja beribadah hari Minggu dan hari-hari lainnya, tetapi hari-hari itu tidak
dapat dipandang sebagai hari Shabbat karena hari Shabbat tetap dimulai pada
Jumat petang sampai Sabtu petang.
Di Indonesia
pada umumnya orang masih tetap bekerja pada hari Sabtu, walaupun banyak juga
kantor yang libur. Pelaksanaan Shabbat memang akan dimudahkan bila seluruh
komunitas melaksanakannya, misalnya seperti di Yerusalem.
Tetapi apakah
dengan demikian perintah Tuhan tentang Shabbat tidak dapat dijalankan sama sekali
di Indonesia? Agaknya tidak demikian. Sekalipun masih bekerja, kita masih dapat
melakukan dua langkah berikut:
Pertama,
mengurangi beban kerja pada hari Sabtu denga cara memindahkannya ke hari-hari
lainnya. Sebagai contoh, kegiatan rutin belanja dapat dipindahkan ke hari lain
sehingga Sabtu terasa lebih ringan.Waktu yang tersedia dapat digunakan untuk
ibadah dan keluarga.
Kedua,
mengambil sedikitnya satu dari tiga acara yang biasa dilakukan pada hari
Shabbat, yaitu Jamuan Erev Shabbat, Ibadah Shabbat pagi, dan Penutupan Shabbat
(Havdalah). Dengan melakukan dua hal tersebut, walaupun belum sempurna kita
telah berusaha mentaati perintah Tuhan dalam kasih.
Tuhan yang
mengetahui isi hati kita akan menolong dan memberi jalan keluar kepada kita
seperti yang difirmankanNya melalui nabi Yesayah:
“Jika karena Sabat engkau membuat kakimu berbalik
dari melakukan kesenanganmu pada hari kudus-Ku, dan engkau menyebut Sabat sebagai
kenikmatan yang kudus,bagi YaHWeH,yang dimuliakan,dan engkau sungguh-sungguh
memuliakannya dengan tidak melakukan jalan-jalanmu sendiri,dengan tidak mencari
kesenanganmu sendiri bahkan membicarakan perkataanmu; maka engkau akan
menyukakan dirimu sendiri dalam YaHWeH.Dan Aku akan membuatmu melintas di atas
tempat-tempat tinggi di bumi, dan membuatmu makan dari milik pusaka
Yakub,leluhurmu” Sebab, mulut YaHWeH telah berfirman.” ( Yesaya 58:13-14 )
Shabbat Shalom
HaKadosh
Baruch Hu


Komentar
Posting Komentar